Aktivis Lingkungan Hidup Kritik Bank Dunia yang Mendukung Pembangunan PLTU di Indonesia

Kelompok pemerhati lingkungan telah mengajukan protes resmi ke Bank Dunia karena terus memberikan dukungan finansial untuk pembangunan dua pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara di Indonesia. Hal ini dinilai melanggar janji sejumlah pemimpin negara untuk berhenti mendukung penggunaan bahan bakar fosil.

Anak perusahaan Bank Dunia di sektor swasta, International Financial Corporation (IFC), merupakan pendukung tidak langsung kompleks PLTU Suralaya di Banten melalui penyertaan sahamnya di Hana Bank Indonesia. Perusahaan tersebut merupakan salah satu penyandang dana proyek tersebut, kata koalisi kelompok lingkungan hidup pada Kamis (14/9).

PLTU Suralaya yang merupakan PLTU terbesar di Asia Tenggara memiliki delapan unit pembangkit yang beroperasi. Berdasarkan rencana tersebut, pengembang proyek akan membangun dua pabrik lagi yang diperkirakan akan melepaskan 250 juta ton karbon dioksida yang menyebabkan pemanasan iklim ke atmosfer, kata kelompok tersebut dalam suratnya kepada ombudsman kepatuhan Bank Dunia, Janine Ferretti.

Asap dan uap dari PLTU Indonesia Power, di samping proyek PLTU Jawa 9 dan 10 di Suralaya, Banten, 11 Juli 2020. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)

Asap dan uap dari PLTU Indonesia Power, di samping proyek PLTU Jawa 9 dan 10 di Suralaya, Banten, 11 Juli 2020. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)

“Dampak buruk terhadap masyarakat lokal, termasuk penggusuran paksa terhadap mereka yang tinggal di lokasi proyek, sudah terjadi,” kata surat tersebut, yang dikirim atas nama Inclusive Development International, sebuah organisasi non-pemerintah di Amerika Serikat.

IFC, Bank Dunia dan Hana Bank Indonesia tidak segera menanggapi permintaan komentar.

IFC berjanji untuk menghentikan investasi di sektor batubara pada tahun 2020. Namun, IFC tetap menjadi pemegang saham di lembaga keuangan yang memiliki investasi di industri batubara, seperti Hana Bank, selama mereka mempunyai rencana untuk menghentikan eksposurnya secara bertahap.

Dalam peraturan IFC yang diperbarui tahun ini, disebutkan bahwa klien keuangannya harus berkomitmen untuk tidak “memulai dan membiayai proyek batubara baru apa pun sejak IFC menjadi pemegang saham.”

Ekskavator menumpuk batubara di tempat penyimpanan PLTU Suralaya, Banten, 20 Januari 2010. (Foto: REUTERS/Dadang Tri)

Ekskavator menumpuk batubara di tempat penyimpanan PLTU Suralaya, Banten, 20 Januari 2010. (Foto: REUTERS/Dadang Tri)

Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA) yang berbasis di Helsinki, Selasa (12/9) menyatakan, kompleks PLTU Suralaya memberikan dampak signifikan terhadap kualitas udara di wilayah tersebut. Polusi udara di wilayah tersebut menyebabkan biaya kesehatan tahunan sebesar lebih dari $1 miliar.

CREA mengatakan hal ini juga berkontribusi terhadap kabut asap di ibu kota Jakarta, yang menduduki puncak daftar kota paling tercemar di dunia pada bulan Agustus.

PT Indo Raya Daya, pengembang PLTU Suralaya, mengatakan pihaknya berencana memasok amonia ke beberapa pabrik barunya, selain batu bara, untuk mengurangi emisi.

Perusahaan tidak segera menanggapi permintaan komentar melalui email.

Menurut lembaga kajian Global Energy Monitor, Indonesia merupakan salah satu dari 11 negara yang mengoperasikan PLTU baru pada tahun lalu. Total kapasitas PLTU Indonesia akan mencapai 40,6 gigawatt pada tahun 2022, naik 60 persen sejak tahun 2015, dan 18,8 GW lainnya sedang dalam tahap pembangunan, yang merupakan jumlah tertinggi ketiga di dunia setelah Tiongkok dan India.

November lalu, Indonesia menjadi negara kedua yang menandatangani Kemitraan Transisi Energi yang Berkeadilan (Kemitraan Transisi Energi yang Adil/JETP) yang akan mendistribusikan $20 miliar untuk membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Namun, pengumuman rencana investasi tersebut tertunda.

JETP memaksa Indonesia untuk memberlakukan moratorium terhadap pembangkit listrik tenaga batu bara baru, meskipun ada pengecualian untuk pembangkit listrik “captive” yang melayani fasilitas industri lainnya. [ah/rs]

Tinggalkan Balasan