Mengintip Markas Kesatria Penjaga Langit Indonesia Bagian Barat

Mengintip Markas Kesatria Penjaga Langit Indonesia Bagian Barat

KILATNUSANTARA.COM, Jakarta: Wilayah udara di Indonesia bagian barat diperebutkan langsung oleh sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei. Maka diperlukan alutsista terbaik TNI AU untuk menjaga kedaulatan udara Indonesia.

Dan saat ini Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin (Lanud) TNI AU merupakan satu-satunya pangkalan tempur TNI AU yang ada di Pulau Sumatera. Di pangkalan di Pekanbaru, Riau inilah tanggung jawab menjaga kedaulatan udara Indonesia berada.

Kementerian TNI AU mengizinkan RRI dan sejumlah jurnalis media nasional mengunjungi markas Sky Knights. Para jurnalis yang tergabung dalam grup Dirgantara Media bisa melihat langsung seluruh aktivitas yang terjadi di pangkalan udara ini.

Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin (RSN) memiliki dua skuadron pesawat tempur yang siap melindungi kedaulatan udara Indonesia di wilayah barat. Skuadron Udara ke-16 dan ke-12 yang bermarkas di sini telah mendaratkan puluhan pesawat tempur multiperan.

Pilot memeriksa kesiapan F16 sebelum lepas landas. Foto: RRi/Anto

“Skuadron Udara 16 mengoperasikan F-16 Fighting Falcon AS, pesawat tempur Blok C/D. Sedangkan Skuadron Udara 12 berisi pesawat Hawk 100/200 buatan Inggris, kata Komandan Lanud RSN Marsekal Udara RSN Ferry Yunaldi dalam keterangannya, Senin (2/5/2024).

Sebagai pesawat tempur multiperan, kedua jenis pesawat ini dapat digunakan untuk berbagai tugas operasional. Baik sebagai pesawat tempur murni atau ‘pesawat serang’, serangan darat, serangan kontra gerilya, pengintaian taktis, pembom atau superioritas udara.

Posisinya yang berada di tengah Pulau Sumatera menjadikan Lanud RSN sangat strategis, dekat dengan wilayah udara Aceh dan Jakarta. Patroli rutin sering dilakukan untuk mencegah infiltrasi pesawat asing.

Komandan Skuadron 16 Mayor (Pnb) B. Yudhistira mengatakan, masih sering terjadi pelanggaran di wilayah udara Indonesia bagian barat. Untuk itu para “Senjata Top” TNI AU selalu mengudara setiap hari, baik untuk latihan maupun melakukan pengawasan udara.

“Kadang ada pesawat militer asing, kadang ada pesawat sipil, entah tidak ada izin atau menyimpang dari jalur yang benar. “Jadi mau tidak mau kita harus naik dan memberi peringatan,” kata Yudistira.

Meski demikian, ia juga menegaskan agar jet tempurnya tidak serta merta mencegat jika ada pesawat asing yang memasuki wilayah udara Indonesia. Sebab, ada sejumlah prosedur yang harus dilakukan sebelum menerbangkan pesawat tempur untuk melakukan pencegatan.

“Karena terkadang pesawat asing berpindah rute karena cuaca buruk. Jadi ya, kita harus mengikuti prosedur agar tidak menimbulkan protes balasan dari negara yang pesawatnya kita cegat, ujarnya.

Sebagai benteng terdepan di langit Indonesia Bagian Barat, tentunya kesiapan dan teknologi jet tempurnya harus mumpuni. Sehingga bisa langsung mengudara dan bertindak ketika perintah pengoperasian datang.

Mengintip Markas Kesatria Penjaga Langit Indonesia Bagian Barat

Komandan Skuadron 12 Mayor Pnb. Yogi Indra melakukannya saat menjelaskan kemampuan pesawat Hawk 100/200. Foto: RRI/Anto

Untuk menjawab tantangan tersebut, pangkalan udara RSN terus melakukan persiapan menyambut kedatangan jet tempur Rafale. Pasalnya, pangkalan udara RSN akan segera menjadi pangkalan utama pesawat tempur produksi Dassault Aviation, Prancis ini.

Sebagai jet tempur generasi 4,5 terbaru dan tercanggih, Rafale memang sangat cocok ditempatkan di Pangkalan Udara RSN. “Karena pesawat yang kita gunakan harus setara dengan jet tempur yang digunakan negara tetangga agar kekuatannya seimbang,” kata Komandan Skuadron 12 Mayjen (Pnb). Made Yogi Indra.

Pemerintah telah menandatangani kontrak penyediaan 42 jet tempur Rafale. Pada tahap pertama, 16 pesawat dijadwalkan tiba di Indonesia pada tahun 2026.


Tinggalkan Balasan